Bunga Bangkai Mekar di Kebun Raya Bogor


Bunga Bangkai yang tumbuh di Kebun Raya Bogor

Bunga Bangkai yang tumbuh di Kebun Raya Bogor

BOGOR, KOMPAS.com — Bunga bangkai Amorphophallus titanum mekar di Kebun Raya Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (11/7) malam. Bunga tersebut tingginya mencapai 1,9 meter.

Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Mustaid Siregar saat ditemui di lokasi, Selasa (12/7/2011), menuturkan, sebelumnya, bunga bangkai jenis Titanum pernah tumbuh dengan tinggi lebih dari 2 meter, bahkan ada yang mencapai 3 meter.

“Sekarang tantangannya menemukan siklusnya. Biasanya setelah fase vegetatif, lalu siklus umbi tanaman itu mengumpulkan energi untuk berbunga, tetapi kadang setelah umbi kembali ke fase vegetatif,” tuturnya.

Mekarnya bunga itu menjadi salah satu daya tarik pengunjung baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa pengunjung mengabadikan momen langka itu karena bunga bangkai hanya mekar 3-4 tahun sekali.

Sumber : Kompas, 11 Juli 2011

FISIKA JADI PENUNJANG DAYA SAING BANGSA

adj-37

 Setiap pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk memajukan peradaban bangsa. Karena itu, perlu pengembangan dari setiapdisipilin ilmu untuk menunjang daya saing bangsa, termasuk pendidikan Fisika. Setiap penemuan dalam bidang Fisika diharapkan dapat membantu dan menunjang pembangunan dan bisa diaplikasikan di masyarakat.

“Negara-negara maju seperti Amerika dan China giat mengembangkan pendidikan Fisika untuk menunjang daya saing bangsa dalam persaingan teknologi,’’ kata Dosen Fakultas MIPA Universitas Sanata Dharma Dr Paul Suparno dalam seminar nasional “Pengembangan Pendidikan Fisika untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa” di Kampus IKIP PGRI, kemarin.

Ia menilai, banyak yang perlu dibenahi agar pendidikan Fisika atau ilmuwan mampu me

mberikan sumbangan ilmu yang berarti bagi bangsa. “Pendidikan Fisika harus didesain agar menghasilkan guru Fisika yang berkompeten dan dapat mengajar sesuai standar. Selain itu, kurikulum dan metode pembelajaran juga harus dikembangkan,’’ katanya. Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Jateng Drs Nurhadi Amiyanto MEd menyatakan, selama ini pembelajaran Fisika hanya mengandalkan daya imaginasi dan perhitungan matematis. “Hal ini menyebabkan siswa dan mahasiswa kesulitan menyerap pemahaman, teori, dan aplikasinya,’’ jelas Nurhadi.

dari Lab untuk Bangsa

dari Laboratorium untuk Bangsa

Menurutnya, gejala sains ada yang membutuhkan simulasi untuk mempelajari, hal ini dapat dilakukan dengan komputer. “Sayang, simulasi belum banyak digunakan oleh guru dan dosen Fisika di Indonesia,’’ ujarnya. (adj-37)

Sumber : Suara Merdeka, 6 Juli 2011

Fenomena efek fotolistrik

Ini merupakan suatu temuan dimana pada masa itu Heinrich Rudolf Hertz menemukan fenomena efek Fotolistrik yang membingungkan para Fisikawan waktu itu. Namun seiringnya waktu, fenomena itu dapat di jawab oleh seorang Fisikawan Einstein.

Sebuah logam ketika diberi cahaya akan melepaskan elektron, yang akan menghasilkan arus listrik jika disambung ke rangkaian tertutup.

Jika cahaya adalah gelombang seperti yang telah diprediksikan oleh Fisika klasik, maka seharusnya semakin tinggi intensitas cahaya yang diberikan maka semakin besar arus yang terdeteksi. Namun hasil eksperimen menunjukkan bahwa walaupun intensitas cahaya yang diberikan maksimum, elektron tidak muncul juga dari plat logam.

Tetapi ketika diberikan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek (frekuensi lebih tinggi, ke arah warna ungu dari spektrum cahaya) dari sebelumnya, tiba-tiba elektron lepas dari plat logam sehingga terdeteksi arus listrik, padahal intensitas yang diberikan lebih kecil dari intensitas sebelumnya. Berarti, energi yang dibutuhkan oleh plat logam untuk melepaskan elektronnya tergantung pada panjang gelombang. Fenomena ini tidak dapat dijelaskan oleh para Fisikawan pada waktu itu. Kalau cahaya itu memang benar-benar gelombang, yang memiliki sifat kontinyu, bukankah seharusnya energi yang bisa diserap darinya bisa bernilai berapa saja ? Tapi ternyata hanya jumlah energi tertentu saja yang bisa diserap untuk melepaskan elektron bebas.

Teka-teki ini akhirnya dijawab oleh Albert Einstein, yang mengemukakan bahwa cahaya terkuantisasi dalam gumpalan, gumpalan partikel cahaya yang disebut foton. Energi yang dibawa oleh foton sebanding dengan frekuensi cahaya dan tetapan yang disebut konstanta Planck. Dibutuhkan sebuah foton dengan energi yang lebih tinggi dari energi ikatan elektron untuk melepaskan elektron keluar dari plat logam. Ketika frekuensi cahaya yang diberikan masih rendah, maka walaupun intensitas cahaya yang diberikan maksimum, foton tidak memiliki cukup energi untuk melepaskan electron dari ikatannya. Tapi ketika frekuensi cahaya yang diberikan lebih tinggi, maka walaupun terdapat hanya 1 foton saja (intensitas rendah) dengan energi yang cukup, foton tersebut mampu untuk melepaskan 1 elektron dari ikatannya. Intensitas cahaya dinaikkan berarti akan semakin banyak jumlah foton yang dilepaskan, akibatnya semakin banyak elektron yang akan lepas. Einstein menjawab teka-teki mengenai fotolistrik.

Sumber : fisika-ceria[dot]com, 22 September 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s