Kebakaran Hutan : Lemongan Terbarkar, Ekosistem Terancam


Tribun Pekanbaru/Melvinas Priananda
Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com – Kebakaran hutan di Gunung Lemongan (1.671 meter di atas permukaan laut/mdpl), Lumajang, Jawa Timur, terjadi lagi. Kebakaran yang terjadi kali ini adalah yang terbesar di Gunung Lemongan dalam kurun waktu musim kemarau sekarang ini, karena terjadi di enam titik sekaligus.

Kebakaran hutan yang kerap terjadi bisa mengancam ekosistem kawasna hutan di gunung itu, yang memiliki lebih dari sembilan danau (ranu) sebagai sumber mata air bagi masyarakat yang tinggal di kawasan itu.

Demikian siaran pers yang dikirimkan Koordinator Organisasi Kerelawanan untuk Konservasi Laskah Hijau, A’ak Abdullah Al-Kudus, kepada Kompas, akhir pekan ini.

“Sekurangnya ada enam titik kebakaran yang terjadi Jum’at (23/9/2011) lalu di Gunung Lemongan. Tiga titik berada di sekitar ketinggian 700 mdpl di sisi barat laut,” ungkap A’ak.

Menurut dia, penyebab terjadinya kebakaran di tiga titik itu belum diketahui secara pasti mengingat, medannya yang sulit dijangkau. Namun kemungkinan besar karena faktor alam. “Pada kondisi kemarau yang sangat kering seperti sekarang, areal padang savana di Gunung Lemongan menjadi sangat rentan kebakaran,” tambah A’ak.

Tiga titik kebakaran lainnya terjadi di sisi barat dan selatan sekitar kaki Gunung Lemongan, yang merambat sampai pada ketinggian sekitar 450 mdpl.

“Kalau yang ini diduga karena adanya beberapa warga yang melakukan pembukaan lahan pertanian di kawasan hutan dengan cara membakar. Akibatnya, api merembet sampai ke kawasan konservasi di Gunung Lemongan,” kata A’ak.

“Memang mayoritas kawasan yang terbakar adalah padang savana dan semak belukar yang belum ditanami oleh Laskar Hijau. Namun, jika kejadian seperti itu dibiarkan terus, maka tidak menutup kemungkinan berdampak pada areal konservasi yang selama ini digarap oleh para relawan Laskar Hijau,” lanjut dia.

A’ak yang meninjau lokasi kebakaran, mengaku tidak bisa menghitung secara pasti luas areal yang terbakar mengingat posisinya yang sulit dijangkau. “Namun, saya perkirakan mencapai di atas 100 hektar,” tambah A’ak.

Dari temuan A’ak dan relawan lainnya, banyak jejak satwa liar yang turun melalui jalur pendakian di antaranya harimau dan kijang.

“Kemungkinan besar satwa-satwa ini lari menghindari kobaran api yang menghanguskan areal tinggal mereka. Dikhawatirkan satwa-satwa ini lari ke pemukiman penduduk, dan kemudian dibunuh sehingga menyebabkan kepunahan satwa-satwa yang dilindungi itu,” kata A’ak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s