Umat Islam Jadi Penentu Indonesia Bebas Korupsi


foto

Busyro Muqoddas. TEMPO/Tony Hartawan

Umat Islam Jadi Penentu Indonesia Bebas Korupsi

TEMPO Interaktif, Yogyakarta – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas menjadi imam dan khatib Idul Adha di Alun-alun Utara Yogyakarta, Ahad, 6 November 2011. Dalam khotbahnya, Busyro menegaskan Idul Adha adalah momen introspeksi diri.

“Berkurban seharusnya menjadi momen introspeksi diri bangsa untuk merefleksikan mengikuti teladan Nabi Ibrahim,” kata Busyro.

Menurut Busyro, umat Islam adalah pembentuk dan penentu sejarah masa depan Indonesia yang berkeadilan sosial dan bebas korupsi. Korupsi sendiri adalah bentuk dari penjarahan duit negara. “Adapun keuangan negara hakikatnya adalah anugerah Allah SWT dan menjadi hak rakyat,” katanya.

Karenanya, kata Busyro, umat Islam bukan merupakan umat yang terus-menerus dikendalikan dan ditentukan nasibnya oleh pihak lain, termasuk sebagian penguasa yang melanggar dan mengkhianati amanah, penipu, dan penjarah harta rakyat.

Busyro menegaskan, pejabat negara dan pemerintah bukan alat dan ATM bagi partai politik, keluarga, dan kroninya, melainkan pengemban dan pelayan pemenuhan hak-hak rakyat.

“Kita prihatin dengan kemiskinan yang semakin masif di negeri kaya raya sumber daya alam ini akibat korupsi yang sudah bersifat sistemik, menggurita, dan struktural. Korupsi pasti berakibat pemiskinan massal di pihak rakyat,” katanya.

Menurut dia, korupsi dilakukan oleh sebagian orang yang sedang diberi amanat di DPR/DPRD, pemerintah pusat/daerah, penegak hukum (polisi, jaksa, dan hakim), dan sebagian pegawai negeri sipil.

Korupsi sebagai tindakan kumuh secara moral sekaligus kejahatan kemanusiaan itu juga dilakukan oleh swasta, yakni sekelompok pengusaha yang menjalankan roda bisnisnya dengan cara menyuap pejabat pemerintah, pejabat negara, dan penegak hukum.

“Sasaran korupsi bukan saja terhadap APBN dan APBD, tetapi juga sektor penerimaan negara dari pajak, minyak, gas, dan batu bara. Bahkan yang menyedihkan, agama pun dikorupsi arti dan fungsinya sebagai pembenaran tindakan politik yang korup,” katanya.

Karenanya, Busyro meminta ajang berkurban dalam Idul Adha mengandung makna yang besar bagi kebutuhan hadirnya pemimpin bangsa dan pemimpin negara yang cerdas, tajam nurani, akhlak, keilmuan, dan kepemimpinan. Ia berpesan, bangsa Indonesia tidak menyerahkan kepercayaan memimpin bangsa ini kepada mereka yang hanya tampak pintar, kaya, dan pandai beretorika.

Pada ajang pemilihan umum dan pemilihan presiden 2014, kata dia, merupakan pintu masuk yang paling kritis untuk keselamatan atau bangkrutnya bangsa dan negara ini. Jika salah memilih berarti mengorbankan bangsa sendiri. Ke depan, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mampu memadukan akhlak, ilmu, dan kepemimpinan yang tegas. “Pemimpin juga harus sederhana, pemberani, dan jujur,” kata dia.

Ribuan umat muslim di Yogyakarta menjalankan salat Idul Adha di lapangan, masjid, dan lapangan terbuka di kantor pemerintah seperti di kompleks Balai Kota Yogyakarta juga di Alun-alun Utara. Meskipun mendung dan lokasi lapangan yang becek, tidak menyurutkan umat untuk menjalankan ibadah tahunan itu.

Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, beserta keluarga dan masyarakat menjalankan ibadah salat Idul Adha di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta bersama jajaran pimpinan daerah. “Pengorbanan akan bermakna besar jika dilakukan dengan tulus. Berkorban bagi bangsa agar bisa mengatasi cobaan bangsa,” kata Sultan.

MUH SYAIFULLAH | WDA | ANT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s