Science Film Festival


JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 16 film sains akan diputar di Science Film Festival yang akan berlangsung 16-30 November 2011 di 12 kota di Indonesia. Festival film tersebut diselenggarakan oleh Goethe Institut, bekerja sama dengan beberapa pihak seperti WWF Indonesia dan Universitas Paramadina.

Film-film yang diputar dalam festival film ini merupakan hasil seleksi dari 50 judul film yang masuk ke penyelenggara. Dari total film yang masuk dan diputar, film produksi Indonesia hanya satu, berjudul I Got It: The Volcanoes Episode, bercerita tentang Gunung Merapi.

Agus P Sari, pendiri sekaligus Direktur Non-Eksekutif Citizen Forest, mengatakan, “Film Indonesia yang masuk ke penyelenggara memang tidak ada. Film tentang volcanoes sendiri sebenarnya di luar 50 yang masuk. Jumlah film sains memang masih minim.”

Menurut Agus, minimnya film sains disebabkan oleh sulitnya jenis film tersebut dikomersialkan. Kebanyakan film sains punya format dokumenter dan ditujukan kepada kalangan terbatas sehingga sulit menembus bioskop dan menghasilkan uang.

Hal itu patut disayangkan sebab sebenarnya film sains bisa berbicara banyak, terutama kepada anak-anak. Produksi film sains bisa memberi pengetahuan tentang masalah humaniora, seperti alam, masalah lingkungan, hingga soal kemiskinan.

“Film sains bisa menjadi media pendidikan. Kalau diajari secara tradisional oleh guru kan kita sering bosan. Film-film sains membuat pelajaran lebih bisa dinikmati,” ungkap Agus ketika ditemui di konferensi pers Science Film Festival, Kamis (10/11/2011).

Ke depan, film sains di Indonesia harus bisa ditingkatkan sehingga, baik minat anak maupun kepedulian orangtua terhadap sains bisa meningkat. “Karena tidak bisa dikomersialkan, mungkin harus dipikirkan, siapa yang akan mendanai pembuatan film tersebut,” kata Agus.

KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN Anies Baswedan

JAKARTA, KOMPAS.com – Science Film Festival kembali akan digelar untuk kedua kalinya tahun ini mulai tanggal 16-30 November 2011. Festival ini diselenggarakan oleh Goethe Institut yang bekerjasama dengan Majalah Kuark, WWF Indonesia, Universitas Paramadina dan beberapa pihak lain.

Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan menilai, Science Film Festival bisa menjadi ajang untuk mendekatkan anak pada lingkungannya. Ia pun menilai pendidikan saat ini cenderung menjauhkan anak dari lingkungan sebab terlalu “urban oriented“.

“Ilmu pengetahuan jika tidak dibagi dengan kreatifitas maka kecil pengaruhnya. tetapi jika dibagi dengan kreatifitas, pengaruhnya akan luar biasa. Science Film Festival adalah cara membagi penegetahuan dengan kreatifitas dan membangun kedekatan dengan alam,” kata Anies.

Science Film Festival kali ini melebarkan sayap. Festival yang menyasar anak dan remaja usia 9-16 tahun itu untuk pertama kalinya akan ditayangkan di 12 kota di Indonesia dalam rangka menjangkau lebih banyak kalangan.

“Film-film akan ditayangkan di Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Salatiga, Ambon, Biak, Sorong dan kota-kota lain,” kata Katrin Sohns dari Bagian Program Budaya dan Pengembangan Asia Tenggara Goethe Institut.

Ada 16 Film yang akan ditayangkan dalam festival ini. Beberapa judul film yang akan diputar antara lain “Nine and a Half : Bees in Danger” yang bercerita tentang lebah dan “Mouse TV : Fuel Cell” yang bercerita tentang cara kerja mobil hidrogen.

Salah satu film yang akan diputar merupakan produksi Indonesia, berjudul “I Got It : The Volcanoes Episode”. Film itu berbicara tentang anak usia 12 tahun yang rumahnya rata akibat bencana Merapi, kehilangan hewan ternak, harus mengungsi namun tetap bertekad untuk kembali.

Sejalan dengan program Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang merancang tahun 2011 serta berbagai masalah hutan dan kenekaragaman hayatinya, maka Science Film Festival tahun ini mengambil tema “Hutan”. Karenanya sebagian besar film akan berbicara tentang hutan dan isinya.

Beberapa film tentang hutan antara lain “The Whizz Reporter : Into the Rainforest”, “Dandelion Wonderful Forest : The Labyrinth of Trees”, “The Forest : Realm of Shadows dan masih banyak lagi.

Seperti tahun sebelumnya, pemutaran beberapa film juga akan diikuti dengan eksperimen. Untuk tahun ini, ada 9 eksperimen yang akan dilakukan, diantaranya “Cartesian Diver” yang berkaitan dengan kapal selam serta “Membuat Stetoskop”.

Tempat-tempat menonton Science Film Festival tersebar di 12 kota. Di Jakarta akan diputar di Goethe Institut, PPIPTEK Taman Mini dan lainnya. Informasi lebih lengkap bisa didapatkan dengan membuka http://www.goethe.de/sciencefilmfestival. Film-film ini juga bisa ditonton gratis.

Anies menilai, pelebaran sayap Science Film festival kali ini berperan penting. Ia menegaskan, bagi anak-anak yang tinggal di wilayah non urban, film-film ini akan memberi pengaruh besar dan membuat mereka memanddang lingkungan dengan cara baru.

“Bagi mereka yang tidak di wilayah urban, melihat film ini seperti melihat halaman belakang rumah. Dari melihat film ini, mereka bisa langsung menerapkan. Film-film ini bisa menjadi rangsangan untuk berkreasi,” jelas Anies.

Science Film Festival pada awalnya diprakarsai oleh Goethe Institut Thailand pada tahun 2005. Tahun ini, festival akan diselenggarakan pula di Malaysia, Filipina, Thailand, Kamboja dan Vietnam dengan target audiens 135.000. Tahun lalu, jumlah penonton di Jakarta sendiri sebanyak 12.000 orang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s