SATWA LANGKA


Yunanto Wiji Utomo | Latief | Selasa, 15 November 2011 | 20:45 WIB
KOMPAS/LASTI KURNIA Inilah kura-kura jantan raksasa yang ditemukan di Sungai Ciliwung, Jumat (10/11/2011) lalu.
JAKARTA, KOMPAS.com – Pakar herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mumpuni mengungkapkan, bulus raksasa seberat 140 kg yang ditemukan di Sungai Ciliwung, di wilayah Tanjung Barat, adalah Chitra chitra javanensis. Spesies bulus ini dilindungi menurut PP7/1999 dan masuk dalam kategori “Terancam Punah” dalam Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN).

“Karena termasuk hewan langka, sebaiknya dikembalikan ke habitatnya saja. Kalau tidak memungkinkan, bisa diserahkan ke kebun binatang untuk dimonitor perkembangannya,” jelas Mumpuni kepada KOMPAS.com, Selasa (15/11/2011).

Mumpuni menuturkan, bulus yang sama juga pernah ditemukan di Sungai Bengawan Solo, di wilayah Bojonegoro dan Situbondo. Pada 1980-an, bulus tersebut juga pernah ditemukan di kawasan Radio Dalam dan Tanjung Priuk.

Namun demikian, hingga sejauh ini belum ada penelitian khusus tentang populasi Chitra chitra javanensis di Sungai Ciliwung. Penelitian umum tentang ciri dan perilakunya juga belum banyak dilakukan.

Kepala Puslit Biologi LIPI, Siti Nuramaliati Prijono, mengatakan bahwa 92% ikan, 66,7% mollusca dan 66,7% udang, dan kepiting di Ciliwung telah punah. Untuk itu, perhatian pada bulus raksasa Chitra chitra javanensis perlu diberikan sehingga tidak menjadi menjadi satwa berikutnya yang punah dari Ciliwung. Masyarakat pun diharapkan sadar untuk tidak mengeksploitasi satwa ini.

JAKARTA, KOMPAS.com — Bulus raksasa ditemukan pada Senin (14/11/2011) di Sungai Ciliwung, tepatnya di wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Awalnya, ada dua bulus yang diyakini jantan dan betina ditemukan dalam kondisi berhadapan. Namun, hanya seekor yang bisa ditangkap dan dibawa ke lahan kosong milik salah satu warga.

Bulus berjenis kelamin jantan yang berhasil ditangkap itu memiliki ukuran panjang 140 sentimeter (cm) dan lebar 90 cm. Bila diukur saat leher dan ekornya terjulur, bulus tersebut memiliki panjang 2 meter, sementara bobot bulus itu 140 kilogram.

Sempat diberitakan sebelumnya, nama spesies bulus itu adalah Chitra chitra. Mumpuni, pakar herpetologi dari Puslit Biologi LIPI, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (15/11/2011), membenarkan hal tersebut.

“Betul, memang bulus tersebut adalah Chitra chitra javanensis,” ujar Mumpuni.

Mumpuni menuturkan, salah satu ciri menonjol dari spesies ini adalah bagian punggungnya yang lunak. Selain itu, ciri menonjol lainnya adalah corak garis menyamping berwarna coklat muda, serta kepala seperti berkerut.

Cara hidup satwa ini adalah membenamkan diri di sungai dan cenderung menunggu mangsa untuk dimakan. Satwa tersebut termasuk karnivora yang memakan keong, kerang, dan kepiting. Hewan ini berkembang biak dengan bertelur di musim hujan.

“Bulus atau labi-labi raksasa tersebut termasuk langka,” kata Mumpuni.

Saat ini, status Chitra chitra javanensis di Indonesia dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 dan masuk kategori “terancam punah” menurut International Union Conservation of Nature (IUCN) Red List Appendix II CITES.

Tak ada penelitian

Mumpuni menjelaskan, pada 1980-an, bulus tersebut pernah ditemukan di wilayah Radio Dalam dan Tanjung Priok. Di luar Jakarta, bulus itu pernah ditemukan di Bengawan Solo wilayah Bojonegoro dan Situbondo. Koleksi keringnya kini ada di Kebun Binatang Surabaya. Meski langka, menurut dia, hingga saat ini belum ada penelitian khusus tentang populasi Chitra chitra javanensis di Ciliwung.

Perilaku, reproduksi, dan hal lain tentang satwa tersebut juga belum banyak diteliti. Karena termasuk langka, Mumpuni mengatakan, bulus yang ditemukan di Ciliwung sebaiknya dikembalikan ke habitatnya atau setidaknya dibawa ke Kebun Bintang Ragunan.

“Masyarakat harus turut menjaga spesies yang bahkan mampu bertahan di Ciliwung yang sarat polusi ini,” ujarnya.

Seperti diketahui, sebanyak 92 persen spesies ikan, 66,7 persen spesies mollusca, dan 66,7 persen spesies udang dan kepiting yang hidup di Sungai Ciliwung telah punah. Untuk itu, jangan sampai bulus raksasa Ciliwung ini juga turut menghilang dari sungai yang mengaliri jantung Ibu Kota ini.

JAKARTA, KOMPAS.com –Biodiversitas atau keragaman hayati di Sungai Ciliwung memprihatinkan. Pandangan ini diungkapkan Dr. Siti Nuramaliati Prijono, Kepala Puslit Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Yang sudah kita lakukan, 92 persen ikan di Ciliwung sudah punah, sementara untuk mollusca 66,7 persen serta bangsa udang dan kepiting juga 66,7 persen,” kata Siti, Selasa (15/11/2011).

Hasil penelitian tersebut didapatkan dengan menganalisa biodiversitas Ciliwung tahun 2009 dan membandingkannya dengan koleksi makhluk hidup di Ciliwung yang ada di Museum Zoologi Bogor, merujuk keragaman tahun 1910.

Melihat rentang waktu dari 1910-2009, bisa dilihat bahwa mayoritas jenis-jenis ikan, mollusca serta udang dan kepiting di Ciliwung punah dalam seabad. “Mulai punah itu sejak manusia mulai banyak di sekitar Ciliwung. Lalu karena polusi dari limbah dan Ciliwung yang seperti menjadi tempat sampah terpanjang,” katanya.

Salah satu jenis yang punah, kata Siti, adalah lele berukuran besar mirip lele dumbo. Disayangkan sebab jika tidak punah, lele itu bisa menjadi sumber protein bagi masyarakat.

Hingga sejauh ini, LIPI belum melakukan penelitian terhadap organisme lain, seperti bulus, kura-kura dan ular, sehingga belum diketahui penurunan biodiversitas satwa tersebut di Ciliwung saat ini.

Satwa Ciliwung kini banyak mengalami tekanan, salah satunya akibat perburunan manusia untuk mencari bahan makanan. Misalnya, jenis kura-kura dan bulus yang saat ini banyak diambil untuk dikonsumsi.

Seperti dilaporkan sebelumnya, bulus raksasa yang ditemukan di Ciliwung kemarin hampir saja dipotong. Namun, pemotongan gagal karena ada warga yang membeli bulus seharga Rp 300 ribu.

Bulus dan kura-kura dari Ciliwung dilaporkan sering diburu dan hasilnya dijual di restoran sebagai bahan makanan. Penelitian perlu dilakukan sehingga paling tidak upaya pencarian sumber makanan untuk konsumsi bisa mempertimbangkan populasi spesies tertentu di alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s